SENYUMAN AIR TUBA

SENYUMAN AIR TUBA

Oleh Widya Putri Puspita

Wajah indah, hangat, dan begitu menawan terpancar sangat nyata. Semua orang pasti akan senang bila diberikan senyuman tulus setulusnya oleh orang yang disukainya. Bagai mentari, hangat dan memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang merasakannya.

Rasanya seperti mimpi, mimpinya indah. Bila diberikan secara dekat dan nyatanya senyum itu oleh orang yang kita sukai. Apalagi, ini kali pertama aku bertemu dengannya. Jantung seperti ingin copot dan berhenti berdetak. Aku tidak pernah merasakan sensasi sehebat ini sebelumnya.

Malam hari, dimana kami saling membuka sebuah perkenalan lewat percakapan kecil antara satu sama lain melalui pesan singkat di media sosial. Aku bertanya soal kehidupannya. Dan begitu sebaliknya. Ia selalu memberikan simbol titik dua diikuti dengan tutup kurung. Ya, simbol senyuman selalu diberikannya di akhir pesan. Aku membalasnya dengan tersipu malu.

Setelah kami berkomunikasi melalui pesan singkat cukup lama, kami memutuskan untuk saling bertemu di tempat favorit kaum hawa dan adam berkumpul sembari menikmati kudapan-kudapan yang telah disediakan. Perasaanku campur aduk seperti es campur super dingin atau semacam gado-gado yang dicampur sedemikian rupa sehingga menghasilkan kenikmatan tersendiri. Dan ini terjadi padaku.

Pembicaraan dimulai dengan membalas senyuman demi senyuman yang terpancar pada bibir mungil lelaki itu. Tak disangka ini lebih berarti dari apapun. Tertawa tergelitik dalam hati, karena kali pertama merasakan sentuhan segembira ini. Setelah kami puas berbicara, kami bergegas untuk menghabiskan satu hari penuh di arena permainan yang tidak jauh dari tempat favorit kaum anak remaja.

***

 Aku pulang. Desir angin malam menyambut ku dengan lelaki bermuka manis dan bertubuh kurus tinggi serta berkulit putih kecoklatan itu. Aku baru menginjakkan kaki ku lagi pada halaman rumah. Tentunya aku pulang tanpa tangan kosong. Lekas aku menutup pintu, kemudian ia memanggil ku seperti nada berbisik dengan bibir sumringah sambil menunjukkan telepon genggamnya. Tanda ia ingin melanjutkan percakapan kembali.

Farraz, lelaki murah senyum itu seperti sedang ingin menaklukkan hati seorang wanita. Aku hendak dibawa tanpa sadar oleh gelombang air laut yang begitu kencang, sehingga aku tidak tahu akan terdampar dimana. Aku dikejar kesenangan bertubi-tubi olehnya.

Senyuman yang biasa ku saksikan setiap harinya itu seperti mimpi indah. Terlihat perbedaannya senyuman Farraz dengan senyuman yang diberi oleh orang lain. Seperti sebuah kejutan di hari ulang tahun terspesial. Entahlah…

***

 Hari demi hari telah aku lalui dengannya. Dibalik senyum yang telah diberikan oleh Farraz, ternyata ia masih senang juga menyimpan kisah sedih di kehidupannya. Ternyata, orang yang terlihat periang, bisa sedih begitu saja bila teringat akan kejadian yang membuatnya harus kejatuhan air matanya. “Aku terlihat seperti ini, karena aku tidak mau terlihat lemah di mata orang lain yang memandangku. Hanya kamulah yang dapat mengerti perasaanku saat ini,”ujar Farraz begitu lebarnya.

Pernyataan Farraz membuatku begitu memahaminya. Aku rasa, ia bukan orang yang segan untuk memberitahukan atau dengan kata lain berbagi pengalaman dengan orang lain. Entah itu perasaan senang atau sedih yang dialaminya.

Pagi hari, ia kembali menyapa lewat pesan singkat yang biasa ia lakukan setiap hari kepadaku. Aku ingin membalasnya, tapi semangatku untuk membalas sepertinya sudah mulai pudar. Semacam pelangi yang datang setelah hujan turun, tetapi pelangi itu justru kejatuhan warnanya dan akhirnya memudar.

Dibalik percakapan yang biasa kami lakukan, aku sedikit memberikan sebuah kode-kode kecil. Entah ia merasa atau tidak. Setidaknya aku mulai berusaha. Aku mulai tertarik karena senyumnya itu. Ini gilaaaa. Walau pada dasarnya, wanita hanya bisa menunggu. Entah menunggu itu dijawab atas penantiannya selama ini atau tidak. Aku tak peduli.

Kembali pada kode-kode tersebut. Ia seperti sedang mengalihkan kode-kode itu. Aku hampir saja putus asa. Ini seperti bukan diriku yang sebenarnya. Yang baru ada masalah kecil saja, sudah ingin masuk ke jurang. Apa yang dirasa?

***

Aku mencoba mencari tahu tentang Farraz. Karena aku merasa kesal saat Farraz mengalihkan kode-kode kecil itu. Aku mulai dengan bertanya kepada teman-temannya yang sering ia kenalkan kepadaku. Salah satunya, Amir. Amir adalah teman yang selalu ada saat Farraz merasa sedang kehilangan arah. Setelah aku dan Amir bertemu, aku menemukan satu jawaban yang setelah kupikir-pikir cukup mengherankan bagiku. Terkejut dan tidak menyangka, mungkin itu suatu bentuk dimana aku seperti tidak ingin mengenalnya kembali.

Senja menyapa burung-burung yang hendak kembali ke sarangnya. Farraz mencoba menghubungiku kembali lewat pesan singkatnya. Namun, gairah ku untuk membalas ternyata lenyap oleh kabar miring yang diberitahu oleh temannya itu. Aku berusaha menghindar namun tak mungkin juga ku lakukan hal ini kepadanya, karena bukti kuat belum juga ku ketahui dan belum ada kepastian pula. Karena pesan tersebut ku abaikan, tiba-tiba saja telepon genggam ku berdering sangat kuat. Kucoba angkat teleponku, namun hanya desahan napas panjang yang kudengar. Hening seketika.

Farraz mencoba menanyakan kepadaku, kenapa tiba-tiba aku tidak merespon kata demi kata yang terucap di bibirnya. Aku hanya diam dan melipat leherku ke bawah saat Farraz mencoba datang kerumahku. Farraz masih tetap memberikan senyumannya yang biasa ia berikan kepadaku. Namun, aku tak kunjung membalasnya.

Aku mencoba menghubungi Amir dan saling menjaga rahasia antara satu sama lain tentang Farraz tersebut. Meski aku tahu, bahwa Farraz adalah kawan seperjuangan Amir. Aku menceritakan emosi dan kesalnya kepada Amir. Amir sangat memakluminya, karena Farraz memang memilki sifat seperti itu.

Farraz tetap memberikan senyuman terbaiknya kepadaku dan mungkin ia masih mengabaikan kode yang aku berikan beberapa waktu lalu. Aku membalas senyumnya dengan gaya yang tidak biasanya. Farraz agak kebingungan sambil menaikkan alis kanannya sedikit. Ya, agak terheran-heran rupanya.

Karena sempat aku mendapati satu jawaban mengenai Farraz, aku ingin mengetahui lebih dalam tentang Farraz. Sebab, beberapa waktu yang lalu, ia masih suka menyembunyikan kesedihan dibalik senyumnya itu. Aku melihat-lihat media sosial yang ia punya, yang kudapat dari Amir. Ternyata? Apa yang menjadi kecurigaan ku selama ini sedikit terungkap. Dan sepertinya misteri mulai terpecahkan.

Senyum adalah lambang seseorang yang terkadang kita tidak tahu, itu senyum tulus atau senyuman buaya. Karena aku sempat menyukainya, aku sebenarnya mulai curiga akan senyum yang selalu dipancarkannya setiap hari kepadaku. Padahal aku tahu sebenarnya ia menyembunyikan perasaan begitu membatin dalam dirinya.

Sempat aku berfikir bahwa senyum yang ia berikan itu tulus kepadaku. Dan aku sempat bertanya akan hal yang terkesan mencurigakan kepada Farraz, namun tak sedikit pun ia menggubrisnya.

***

Hari ke tiga puluh, dimana saat aku sudah berkenalan cukup jauh dengan Farraz. Dengan rasa penasaran, aku menanyakan hal mengapa ia masih senang memberikan senyumnya kepadaku. Namun, pertanyaanku tidak langsung disanggah. Beberapa menit kemudian, ia mulai menatapku dan mulutnya sedikit bergemetar seakan ingin menjawab seperti ketakutan. Aku menunggu dengan segret-gregetnya.

Akhirnya, ia mengungkapkan kronologis mengapa ia memberikan senyuman itu kepadaku tiada henti. Ternyata? Yang aku cari tahu selama ini, ternyata benar. Sangat benar. Bahkan perkataan Amir kepadaku tidak ada yang berbeda setitik pun. Sebelum ia menceritakan hal itu, ia meminta maaf terlebih dahulu kepadaku sambil menggenggam tanganku begitu kuatnya.

“Maafkan aku, aku melakukan ini karena aku kalah dalam hal taruhan yang aku adakan bersama teman-temanku. Maafkan aku,” ujar Farraz dengan begitu sakitnya.

“Apa? Sepertinya aku tidak salah dengar, bukan? Aku sungguh menyesal berkenalan denganmu. Selama ini, aku sudah merasa sia-sia membalas senyum yang kau berikan setiap hari kepadaku. Kau jadikan aku sebagai bahan taruhan?! Ini gilaaaaa…,” jawabku dengan emosi meledak-ledak.

“Kalau kamu tidak memaafkan ku pun tak apa. Bukan hanya itu saja, aku menjadikan mu sebagai bahan pelarian setelah aku mengakhiri hubunganku dengan kekasih ku beberapa bulan yang lalu,” ujar Farrraz kembali sambil menggengam tanganku yang tidak seperti biasanya.

“Aku merasa sudah ditelanjangi habis-habisan oleh mu. Aku tidak tahu harus dimana menyembunyikan rasa malu ku. Kau harus tahu itu! Maaf pun rasanya tidak akan pernah bisa terucap kepadamu. Ingat itu!,” jawab ku sambil bergegas meninggalkan Farraz.

Ternyata, selama ini orang tidak seperti kelihatannya. Aku berusaha mencoba membalas senyumnya itu ternyata semua seakan sia-sia. Hidup ku seperti ditelanjangi habis-habisan. Aku seperti tidak mempunyai harga diri lagi. Rasanya kata maaf pun tidak akan terucap dengan semudah itu. Apa yang aku cari Farraz di media sosial selama ini benar dan telah membelalakkan mata ku dalam sekejap. Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Ini bagaikan mimpi buruk, buruk sekali. Mimpi yang tadinya mimpi indah, dalam sekejap petir dan angin badai datang di mimpi itu, sehingga meluluhlantahkan semuanya. Semenjak kejadian itu, aku menyebut senyum Farraz dengan sebutan Senyuman Air Tuba.

Hidup yang Ku Jalani

Hidup yang Ku Jalani

Oleh Widya Putri Puspita

     Hidup yang ku jalani tidak semenarik yang mereka lihat dan pikirkan. Mereka itu adalah mereka yang memiliki uang dimana-mana. Terkadang aku ingin seperti mereka yang hidup begitu bahagia tanpa beban. Mereka yang hanya mengandalkan belas kasih dari orang tua. Yang hanya meminta, meminta dan meminta. Tanpa peduli akan perjuangan orang tua yang susah payah menghidupi dan menafkahi hidup demi hidup. Mereka yang tidak tahu bagaimana rasanya membanting tulang. Keringat yang dikeluarkan pun tidak sebanding bagi mereka yang hanya tahu untuk meminta. Mereka yang tidak merasakan penderitaan orang yang kurang beruntung hidupnya, hanya makan seadanya dan hidup ditengah keterpurukan.

Hidup yang ku jalani sangat berbeda. Aku yang terlahir sebagai anak yang kurang beruntung. Aku yang sudah tidak memiliki seorang ayah. Aku yang lupa rasanya mendapatkan perhatian lebih dari seorang ayah. Aku benar-benar lupa. Aku tidak seperti mereka yang masih memiliki kedua orang tua yang utuh dan sehat tentunya. Aku yang sangat kurang beruntung.

Hidup yang ku jalani begitu kelam. Tidak mendapatkan pencerahan dari beban-beban yang ku pikul sebagai anak pertama. Aku tidak seperti mereka yang masih bisa bersenda gurau dengan teman-teman sebayanya. Semenjak ayah ku sudah terlahir di dunia yang berbeda, aku yang harus bekerja selepas kuliah di perguruan tinggi swasta. Tidak punya banyak waktu seperti mereka yang bisa saling melepas canda dengan teman-teman selepas kuliah. Aku berbeda.

Hidup yang ku jalani hanya menebar senyum demi senyuman kepada orang-orang yang melihat dan memandangku saat ini. Mereka melihatku seperti aku yang tidak sama sekali dikelilingi oleh beban-beban yang begitu membunuhku perlahan demi perlahan. Mereka hanya tahu bahwa hidup ku sudah aman dari keterpurukan. Mereka tidak melihat ku dari sisi yang lain. Aku sudah lelah sebetulnya untuk menebar senyuman palsu kepada mereka yang tidak tahu ada apa dalam hidupku. Hidup yang penuh derita dan malapetaka.

Hidup yang ku jalani tak seharusnya aku jalani seperti kuli-kuli yang tugasnya hanya mengangkat berat dari beban yang mereka pikul. Sama halnya seperti diriku yang sudah harus memikul beban-beban yang begitu berat layaknya seorang kuli. Hidup yang aku miliki tidak seperti mereka yang bergelimang harta disana dan  disini. Mereka yang hanya duduk dan menyuruh para budaknya untuk menuruti apa maunya sang majikan. Aku tidak akan pernah menjadi seorang majikan. Aku hanya pengemis kehidupan, yang hanya mengadahkan telapak tangan demi sebongkah belas kasih dari mereka-mereka yang begitu kaya raya.

Hidup yang ku jalani, tidak selamanya membawa peruntungan dalam hari-hari ku. Hanya mereka yang bersedia mengorbankan keikhlasannya. Hanya mereka yang benar-benar tulus dalam berbagi sedikit dari rezeki. Tidak semua dari orang-orang berada seperti mereka, mampu menjalankan apa yang aku jalankan di kehidupanku. Hidup yang begitu rumit dan tak pantas hidup di kota metropolitan.

Hidup yang ku jalani, ternyata ada hikmah dibalik keterpurukan yang menimpaku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik. Mereka bukan orang yang bergelimang harta dan bukan orang yang mempunyai uang dimana-dimana, tapi mereka adalah teman-teman ku yang hadir sebagai pahlawan. Mereka ada dalam suka maupun duka. Mereka yang membuatku merasa nyaman. Mereka yang membuatku tertawa lepas dalam berbagai masalah yang selalu aku sembunyikan. Mereka hadir dalam keterpurukan yang sudah membinasakan ku waktu demi waktu. Mereka yang hadir sebagai teman, sahabat, dan pahlawan.

Derita di Bulan September

Derita di Bulan September

oleh Widya Putri Puspita

Aku pernah merasakan sentuhan hangat bertubi-tubi dari orang terspesial yang sempat datang menghampiriku, namun apa yang ku rasakan itu tidak lama. Tapi, aku juga pernah terdampar oleh kesakitan yang bertubi-tubi oleh orang yang sama. Orang yang pernah mengukir masa-masa indah di kehidupanku, namun orang itu juga yang menghancurkannya dengan seketika.

Kebahagiaan yang aku alami tidak membawa kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupku. Aku tidak tahu kapan akan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.  Mungkin ada benarnya, kalau kita dipertemukan bukan untuk kebahagiaan, tetapi untuk saling menguatkan.

Ini seperti mimpi buruk yang menghantuiku setiap waktu. Aku yang hendak ingin berlari, namun kaki ku seperti tertahan di tempat ku berpijak saat ini. Tak bisa berlari bahkan bersembunyi kemana pun. Dimana malam berganti pagi yang membangunkanku dari mimpi-mimpi menakutkan itu. Pagi ku hening dan tidak merasakan sentuhan pagi yang bersahaja di bulan ke-9 yang paling menyebalkan, yaitu September. Aku benci September. Benci sekali.

Bagiku, September menjadi bulan paling menakutkan sepanjang sejarah di kehidupanku. Mungkin, aku adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan orang yang tidak menyukai bulan kramat itu. Bukan hanya itu, aku selalu menanggalkan kalender ketika bulan September tiba. Tidak butuh banyak alasan ketika aku benar-benar tidak menyukainya.

Kini, aku masih sendiri dan hanyut dalam keramaian kota. Sepi, bahkan terasingkan dari orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Sepi yang menghampiriku, tak selalu membawa peruntungan bagi diriku. Aku kelelahan menunggu sesuatu yang indah datang menjemputku kembali. Aku tidak mau lagi membahas apa yang terjadi pada bulan September yang lalu. Hari-hari ku masih terlelap oleh bayangan kesendirian yang membuntuti ku dari belakang hingga saat ini. Belum ada tanda-tanda akan kesendirian yang ku tunggu berbuah manis. Ya, belum kunjung tiba.

Aku masih terbaring lemah menunggu penantian masa depan. Masa depan yang indah adalah dambaan semua orang tentunya. Aku tidak bisa memprediksi masa depan ku seperti apa dan dengan siapa aku akan bersanding. Pasti, hal itu adalah hal yang selalu ada dipikiran orang-orang yang ingin sekali mengetahui masa depan di kemudian hari. Tak habis-habisnya aku berpikir dan tak jarang seperti awan hitam mulai membentuk gumpalan-gumpalan kecil di atas kepalaku. Sepertinya, otak ku yang ku pakai untuk berpikir mulai terasa panas dan akhirnya terbakar. Butuh seseorang untuk memadamkannya. Entah itu pemadam kebakaran atau bukan. Tapi siapapun, tolonglah aku…

Satu per satu, mawar yang menghiasi kamar tidurku mulai menjatuhkan kelopaknya dengan lembut. Jatuhnya kelopak itu terasa sia-sia. Waktu terus berjalan, namun penantian tak kunjung berdatangan. Hingga akhirnya, tersisa satu kelopak utuh dan berdiri tegap begitu cantiknya. Kapan kelopak itu akan jatuh secara sia-sia juga? Entahlah…

Kebencianku terhadap bulan September menimbulkan banyak pertanyaan. Aku tak mau menjawabnya, biar mereka tahu dengan sendirinya. Setiap hari, pertanyaan muncul dengan pertanyaan yang sama. Lelah mendengarnya. Rasanya aku harus mengasingkan diriku jauh-jauh dari muka bumi ini. Aku mulai muak dengan kegilaan ini.

Hari, jam, menit, hingga detik sudah aku lalui terbuang dengan percuma. Mawar yang menghiasi kamar tidurku sudah tertinggal tangkai seorang diri. Kelopak terakhirnya ternyata jatuh dengan sia-sia juga. Aku tak tahan kalau setiap harinya harus aku lalui dengan murung seperti ini. Entah, orang yang dulu pernah datang dikehidupanku, akan merasakan apa yang aku rasakan atau tidak. Aku tidak tahu.

Derita yang aku alami dibulan September begitu rumit dan sungguh menakutkan. Ketika aku tidak dapat menahan tangisku, tetesan air hujan menghujamku begitu deras dan kuat. Tak disangka, alam mendukungku dan mengerti keadaanku saat ini.

Disaat aku sudah lelah dengan bulan September, aku mendapati kabar bahwa orang yang paling menyebalkan bahkan aku benci itu, sudah mendapati seorang perempuan cantik yang aku sendiri tidak ingin menyebutkan namanya. Aku terheran. Mengapa lelaki lebih cepat untuk berpindah ke lain hati, sedangkan seorang wanita hanya bisa duduk meratapi masa lalunya yang kelam dan masih untuk tetap menjaga perasaannya?

Aku tak bisa lagi membendung kekesalanku saat itu. Ternyata, orang yang aku benci selama ini tidak merasakan apa yang aku rasakan. Aku terlalu kesal akan hal itu. Kebanyakan dari lelaki hanya bisa mengumbar perasaan kepada wanita, tanpa lelaki itu tahu bahwa ada orang yang diam-diam masih menjaga perasaannya demi orang yang dibencinya. Dengan kata lain, masih dibenci. Ya, dibenci.

Menerima kenyataan itu memanglah tidak mudah. Kesabaran apalagi yang harus aku kerahkan untuk menghadapi masalah seperti ini. Aku berharap ada hidayah dari permasalahan yang aku dapatkan di bulan September. Sekali lagi, aku benar-benar tidak menyukai bulan September. Ya, September.

Harapan, Seburuk Itukah Engkau?

Harapan, Seburuk Itukah Engkau?

Widya Putri Puspita

Angin malam mengantarkan pada jalan gelap bertabur kesunyian

Gemericik air membasahi separuh badan hingga menusuk rusuk terdalam

Kesunyian memanggil begitu kencang

Ketakutan menggigil di tengah derasnya air di pelupuk mata

Mawar mekar kemudian hancur, menjatuhkan kelopak indahnya

Untaian harapan tak dapat lagi digenggam

Awan hitam mulai mengepul di atas kepala dan membusuk bersama angan lepas

Hilang dan lenyaplah semua dan tak dapat kembali seperti sedia kala

Harapan, seburuk itukah engkau?

Mekar kemudian Layu, Hancur kemudian Hilang

Mekar kemudian Layu, Hancur kemudian Hilang

Widya Putri Puspita

Kelancangan Arman bermula saat tak kuasa melihat layar telepon genggamnya yang sejak kurang lebih satu bulan tidak diberi kabar oleh Reyna. Reyna sebenarnya bukan siapa-siapa Arman sekarang. Tetapi, Arman memberikan perhatian lebih kepada Reyna, hingga sempat menjalin hubungan yang bisa dibilang serius. Reyna dan Arman adalah orang yang bermuka sama, walaupun tidak sepenuhnya mirip. Kata orang sih, jodoh. Tapi belum sepenuhnya kata-kata itu dipercaya Arman. Karena menurut Arman, jodoh itu sesungguhnya ada di tangan Tuhan.

Suatu ketika, Arman yang berprofesi sebagai seorang guru muda berbakat ini sudah merasa seperti kehilangan arah akibat Reyna. Jelas saja, Reyna yang berparas cantik, sholehah, dan lemah lembut ini sudah membuat Arman jatuh cinta sekali saat itu. Siapa lelaki yang tak ingin ada di posisi Reyna? Karena kehilangan arah seperti itu, Arman sempat kehilangan konsentrasi juga dengan mengajarnya. Tak jarang, anak muridnya pun terkadang meledeknya karena tidak fokus saat mengajar. Guru adalah pekerjaan sangat mulia. Dan Arman telah menyia-nyiakan pekerjaannya karena Reyna.

Reyna yang masih menempuh dunia pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta islam di Jakarta ini, sudah menghilang dan tidak memberikan sepenggal kata apapun kepada Arman. Arman menyadari bahwa Reyna sangat sibuk karena harus menyusun skripsi yang merupakan tugas berat bagi sarjana satu. Arman memahami apa yang dirasakannya saat ini dan mencoba untuk tetap tenang.

Kesendirian Arman di hiruk pikuknya kota Jakarta ini, tidak bisa menumpahkan kegundahgulanaannya pada siapapun. Arman tidak memiliki siapa-siapa. Sebatang kara. Bahkan orang tua sekalipun. Kedua orang tua Arman sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, Arman harus membanting tulang sendirian dan tinggal di tempat yang amat sederhana dan lumayan terpencil hingga sangat tersudut.

Arman selalu menatap layar telepon genggamnya, berharap Reyna menghubungi Arman saat itu. Ya walaupun hanya pesan singkat dan hanya mengirim kata “hai” saja sudah membuat Arman merasa tenang. Namun, pengharapan itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya memasuki dua bulan.

Arman berusaha menenangkan diri. Firasat Arman mulai tidak karuan dan semakin menjadi-jadi. Seperti ada yang berbisik di telinga Arman dan memberikan suatu pertanda buruk untuk Reyna bahkan Arman sekalipun yang menunggu kabar Reyna hingga saat ini.

Arman kemudian mengecek satu persatu kontak di telepon genggamnya, berharap ada seseorang yang dapat dihubungi Arman. Arman mencari terus. Hingga akhirnya mendapatkan nomor telepon yang merupakan teman Arman, yang pernah kenal Reyna juga sebelumnya. Ketika Arman menekan tombolnya dan menunggu telepon itu ada yang menjawab seperti suara operator. Ternyata, nomornya pun sama sekali tidak aktif. Arman kecewa. Sepertinya teman-teman Arman mulai menjauh dan tidak memberikan kabar apapun kepada Arman seperti layaknya kehilangan Reyna.

Arman menghabiskan waktu senggangnya hanya untuk mempublikasikan hasil curahan hatinya di media sosial sembari mengoreksi pekerjaan rumah anak muridnya. Semua isi yang dipublikasikan Arman merupakan situasi Arman saat ini. Tak sedikit teman Arman semasa kecilnya mengomentari hasil curhatannya di media sosial tersebut. Teman Arman itu sangat jauh darinya karena terpisah oleh jarak.

Sebenarnya, Arman ingin sekali berkunjung ke rumah Reyna sembari saling silahturahmi dan melepas rindu. Tapi Arman takut kalau kehadirannya tidak digubris Reyna sekalipun. Nomor Reyna pun tidak aktif saat Arman berusaha menghubungi. Arman begitu khawatir dengan Reyna. Apakah Reyna juga khawatir kepadaku?

Memasuki bulan ke tiga dan bertepat di tanggal Arman sempat menjalin kasih dengan Reyna. Arman selalu memutar balikkan otaknya untuk mengingat hal apa saja yang dilakukan saat tanggal spesialnya itu. Saat tanggal spesialnya itu menghiasi layar telepon Arman, Arman hanya tersenyum kaku dan menghela napas panjang. Kemana kamu Reyna?

Teman Arman di sekolah yang merupakan satu profesi dengan Arman, sangat merasakan apa yang dirasakan oleh Arman. Ya, namanya Deny. Deny juga pernah merasakan hal yang sama seperti Arman. Ketika Arman mencoba untuk terbuka dengan orang yang sudah dipercayainya, Deny hanya menepuk bahu Arman dan mengelusnya sebagai tanda untuk menenangkan. Arman hanya menunduk dan masih mengharapkan penantiannya. Ini juga salah Arman yang melepas Reyna begitu saja karena ada permasalahan  yang mengharuskan hubungannya tidak untuk dilanjutkan.

Pergantian bulan terus berjalan. Seperti tidak ada gunanya lagi Arman menantikan sebuah pertemuan indah yang Arman impikan. Kalau saja waktu dapat diputar kembali, Arman akan meminta maaf dengan tulus sambil bertekuk lutut bahkan mencium punggung tangan Reyna. Disatu sisi, Arman juga menyadari kesalahannya. Andai, Arman bersikap lebih terbuka kepada Reyna. Mungkin tidak akan seperti ini jadinya.

Permasalahan ini dimulai ketika kedua orang tua Arman tidak menyetujui hubungannya dengan Reyna. Arman tidak berkata jujur kepada Reyna soal ini. Padahal, Reyna itu bagaikan malaikat yang turun ke bumi. Arman tidak mengerti jalan pikiran kedua orang tuanya. Hingga tidak memberikan restu kepada Reyna. Sudah berkali-kali Arman menyatakan pikirannya kepada orang tuanya. Namun, orang tua Arman tidak menggubrisnya dan hanya berkata “Tidak!”.

Reyna yang sudah mengetahui hal ini. Entah dari mana Reyna mendapatkan informasi seperti itu. Dengan sigap dan tidak ingin memperparah keadaan, Reyna memutuskan jalin kasih yang sudah dibangun 2,5 tahun dengan Arman. Arman sedih, kecewa, dan marah yang melanda dirinya membuat harus kehilangan seperti sekarang ini. Arman harus menanggungnya sendirian.

Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan sudah Arman lalui. Saat Arman keluar rumah untuk mengajar di sekolah, di dapati sebuah undangan yang tidak tahu dari siapa. Arman dengan muka terheran-heran melihat undangan itu. Karena sejauh ini, belum ada yang tahu alamat rumah atau belum ada yang berkunjung ke tempat tinggal Arman sebelumnya.

Perlahan dan dengan sangat hati-hati, dibukanya undangan itu. Ah tidak! Ini seperti mimpi buruk. Arman mendapati sebuah foto Reyna bersama dengan seorang lelaki gagah berseragam layaknya seorang tentara. Arman seperti terperangkap dalam labirin. Dan dengan mulut menganga sebagai tanda kekecewaan dan ketidakpercayaan akan secepat ini Arman harus merelakan orang yang selama ini Arman menunggu untuk kembali, namun itu hanya ilusi belaka. Arman hanya bisa pasrah melihat undangan tersebut yang menghiasi mata yang sudah mengambang oleh air-air yang akan jatuh perlahan. Semenjak kejadian ini, Arman tidak ingin lagi menyia-nyiakan seseorang yang sudah masuk di kehidupannya. Entah siapapun itu. Karena sesungguhnya, kesempatan tidak akan datang dua kali.

Masih Ingin Kau Datang?

Masih Ingin Kau Datang?

Widya Putri Puspita

kau  datang saat hati sudah tak peduli

kau datang saat hati mulai rapuh

kau datang saat raga tak bisa menerima kembali

kau datang saat cibiran sudah menghampiriku

kau datang saat ku sudah tak ingin mengenalmu

kau datang saat ku sudah membuang semua ingatan masa lalu

kau datang saat kosongnya jiwa sudah terisi penuh yang haus akan kasih

kau datang membawa kata maaf

ya, hanya maaf!

Masih ingin kau datang?

Perih Yang Semakin Bernyawa

Perih Yang Semakin Bernyawa

Widya Putri Puspita

Hiruk pikuk kota Jakarta bukan hal asing

Sendiri yang ku alami tak selalu membawa peruntungan

Hujan di bulan September membawa pilu berceceran

Ingatkah itu?

Banyak dari mereka tidak tahu menahu

Mereka hanya bisa mencibir terlalu dalam

Hingga membukit di dalam tulang rusuk

Tahu kah itu?

Melihatnya saja sudah membutakan mata, hati, dan pikiran

Sentuhan hangat tidak menerjang kembali

Lihat, partikel air jatuh semakin deras dan deras

Masih ingin menyakiti?

Kesanggupan hati membawa kekaguman tersendiri

Membenci bukan jalan terbaik

Kata maaf pun sulit terlontar

Ya, begitulah cerita…